Saturday, 9 December 2017
Lupa Password BIOS Laptop Acer Kamu ? Simak Cara Mengatasinya
Lupa Password BIOS Laptop Acer Kamu ? Simak Cara Mengatasinya: BIOS adalah singkatan dari Basic Input Output System. merupakan suatu software (ditulis dalam bahasa assembly) yang mengatur fungsi dasar dari perangkat keras (hardware) komputer. BIOS juga merupakan dasar dari pengaturan pada komputer, ketika BIOS tidak bisa…
Saturday, 30 September 2017
Friday, 29 September 2017
Kisah Jenderal Ke-8 yang Lolos G30S/PKI dan Penting untuk CIA
Jakarta - Mestinya ada 8 jenderal yang diculik saat G30S/PKI, bukan 7. Inilah Brigjen Ahmad Sukendro yang CIA pun sayang kalau kehilangan dia.
Laporan intelijen CIA bertajuk The President's Daily Brief tahun 1965, sudah bisa diakses publik. Dalam beberapa laporan itu seperti dilihat detikcom dari situs resmi CIA, Kamis (28/9/2017) dalam rangka memberantas PKI, rupanya jenderal-jenderal AD aktif berkomunikasi dengan pihak Amerika Serikat dan masuk dalam laporan CIA.
"Jenderal Sukendro, satu-satunya yang selamat dari Brain Trust AD setelah pembunuhan 30 September, mengatakan kepada pejabat Amerika kemarin bahwa dia pikir situasi cukup baik. Dia mengakui, pertanyaan besar apakah AD bisa memberantas Komunis dengan Sukarno yang merasa keberatan," kata CIA dalam laporan tanggal 15 Oktober 1965.
Dake menyebutkan Sukendro lolos dari maut karena sedang tugas dinas ke Beijing di malam pembunuhan para jenderal. Siapa sih dia? Kenapa kita jarang mendengarnya hari ini? Roosa menyebut Sukendro adalah jenderal intelijen yang dekat dengan CIA dan pejabat AS.
Hal itu seperti diamini oleh CIA sendiri dalam laporan kepada Presiden Johnson tanggal 20 Oktober 1965. CIA khawatir betul Sukendro ditendang Sukarno setelah kejadian G30S/PKI sebagai bagian dari pertarungan AD dan PKI.
"Mantan PANGAU Omar Dani yang terlibat urusan 30 September, meninggalkan Indonesia kemarin untuk kunjungan yang diperpanjang di luar nageri karena didesak AD. Untuk kompensasinya, Sukarno meminta Jenderal Sukendro mengasingkan diri. Kalau dia pergi, AD akan kehilangan otak politik terbaiknya," kata CIA menyayangkan.
CIA kembali melaporkan pada 26 Oktober 1965 kalau Sukendro menolak mengasingkan diri. Namun pada akhirnya pada 29 Oktober 1965, Sukarno berhasil memaksa Sukendro hengkang dari Indonesia. Alasan lain kenapa nama Sukendro menghilang adalah, Soeharto menjebloskannya ke penjara di awal Orde Baru.
Berikut ini adalah laporan CIA tanggal 15, 20, 26, dan 29 Oktober 1965 yang menyebutkan Sukendro:
15 OKTOBER 1965
AD terus melawan Komunis Indonesia.
Jenderal Sukendro, satu-satunya yang selamat dari brain trust (kelompok pemikir-red) AD setelah pembunuhan 30 September, mengatakan kepada pejabat Amerika kemarin bahwa dia pikir situasi cukup baik. Dia mengakui, pertanyaan besar apakah AD bisa memberantas Komunis dengan Sukarno yang merasa keberatan.
Sukendro bicara soal situasi di Jawa Tengah dimana unit AD bingung dengan babak awal upaya kudeta dan di sana Komunis tetap kuat.
Pemimpin utama Komunis Aidit telah (KALIMAT DISENSOR) dilaporkan ditangkap AD. Ada indikasi bahkan elemen pro-Komunis di sekitar Sukarno mencoba menjadikan Aidit sebagai kambing hitam untuk skandal 30 September.
Aksi rusuh terjadi kemarin dan berganti sasaran dengan merusak universitas di Jakarta yang dikelola oleh warga Tionghoa. Meskipun universitas ini pro-Beijing, dari serangan ini bisa dianggap sama kalau kelompok anti-China adalah juga kelompok anti-Komunis. Kedubes Komunis China rumornya jadi target rusuh, lantas dijaga AD. Komandan AD di Jakarta meminta pelaku rusuh berhenti merusak.
20 OKTOBER 1965
AD masih mencincang Komunis.
AD memerintahkan pemimpin Komunis di wilayah Jakarta untuk melaporkan diri ke otoritas polisi atau militer. Penangkapan pemimpin Komunis berlanjut dan (KALIMAT DISENSOR) antara 1.300 dan 1.400 orang sudah ditahan.
Koran di Jakarta kemarin begitu jauh menulis kalau Sukarno bertanggung jawab atas kekacauan ini. Kedubes kita mengatakan ini adalah bukti kekuatan Sukarno mengecil.
Sukarno sementara itu melakukan yang terbaik untuk meredam gerakan AD dan memulihkan kehormatan Komunis. Manuvernya cuma sedikit berdampak terhadap semangat anti-Komunis.
Juga ada tanda-tanda AD akan menyejajarkan diri untuk melawan Menlu Subandrio yang masih merupakan penasihat terdekat Sukarno.
Mantan PANGAU Omar Dani yang terlibat urusan 30 September, meninggalkan Indonesia kemarin untuk kunjungan yang diperpanjang di luar nageri karena didesak AD. Untuk kompensasinya, Sukarno meminta Jenderal Sukendro mengasingkan diri. Kalau dia pergi, AD akan kehilangan otak politik terbaiknya.
26 OKTOBER 1965
Para jenderal memimpin jalan untuk melawan Komunis dan yang terlibat urusan 30 September.
Target AD adalah Menlu Subandrio, yang terlibat upaya kudeta oleh 2 orang yang sudah ditangkap sebelumnya. Unjuk rasa hari ini melibatkan 10.000 pemuda meminta dia dicopot
PARAGRAF DISENSOR
Jenderal Sukendro menolak arahan Sukarno untuk mengasingkan diri. Beberapa koran anti-Komunis tetap terbit meski diminta tutup. Pemimpin buruh Komunis yang diam berbulan-bulan, bersuara lagi.
PARAGRAF DISENSOR
Sambil ini berlanjut (KALIMAT DISENSOR) Komunis memulai kampanye sabotase dan terorisme. (KALIMAT DISENSOR) Persiapan Komunis untuk 'perang gerilya' di sini dan area lain di Jawa dan Sumatera.
29 OKTOBER 1965
PETA INDONESIA DENGAN PETA JAWA DIPERBESAR
Kedubes AS di Jakarta yakin situasi keamanan terus memburuk di beberapa area kunci.
Ini khususnya benar di Jawa Tengah dimana Komunis merasa perlu menyerang sebelum terlambat. AD sebaliknya khawatir dengan kesetiaan unit mereka di sana.
Situasi sama juga didapatkan di Jawa Timur. Satu masalah adalah komandan militer di sana ragu-ragu melawan Komunis, dan mereka jadi punya waktu berhimpun. Beberapa laporan terkonfirmasi menyebutkan ketegangan meningkat di ibukota.
Dalam menilai situasi ini, pejabat AS di Jakarta menyimpulkan karena militansi Komunis, periode kekerasan akan terjadi. Mereka merasa, keseimbangan ada di sisi AD dan ada kesempatan nyata untuk bergerak melawan kendali penuh Komunis.
Dari sisi politik, manuver dari kekuatan yang bertikai terus berlanjut. Sukarno akhirnya berhasil memaksa Jenderal Sukendro keluar negeri beberapa minggu. AD menerbitkan pemberitahuan maksud untuk mengendalikan pers.
(fay/dkp)
Thursday, 28 September 2017
Saturday, 23 September 2017
STB Indihome ZTE ZXV10-B760H Install APK KODI DLL
STB Indihome seri ZTE ZXV10-B760H saat ditulis ini, adalah piranti keras yang sedang dipergunakan telkom indihome untuk menonton siaran ip tv nya. Menariknya, karena menggunakan OS Android, STB ini bisa dioprek selayaknya OS Android lainnya. Seperti install berbagai APK, install Kodi buat nonton TV, atau bahkan juga bisa di root.
Pendahuluan
Meski pengguna Indihome (yang ingin putus berlangganan), saya tidak berlangganan layanan TV nya. Hanya 2p alias Internet dan Phone. Sebenarnya pengennya 1p saja, tapi entah berurusan dengan BUMN satu ini ribetnya setengah mati.. terutama soalnya billing.
Karena tidak berlangganan TVnya, maka aku gak punya (gak dikasih, baca: sewa) STB Indihome senilai 40rb/bulan. Tidak mengapa. Aku mendapatkan sendiri dengan beli di FJB atau di market place online yang tersebar di jagat maya dengan mudah. Harga terjangkau. Dan tentu saja second 😎
Harganya sendiri range 200-300 ribu.
Tujuan
Tujuan tutorial ini adalah untuk mendokumentasikan buat diri sendiri atau orang lain, yang bisa jadi kesasar ke sini baik sengaja atau tidak sengaja.
Tutorial ini enggak aku tulis sepenuhnya sendiri, karena sudah banyak beredar tentang cara install APK atau KODI di internet. Namun tetap saja aku tulis buat dokumentasi, karena biar berkelanjutan sampai pada tutorial ngerootnya yang baru saja aku lakukan.
Spesifikasi
- Tipe: ZTE ZXV10-B760H
- OS: Android 4.4.2 KitKat
- SoC: 4-core 1.51 GHz
- RAM 1 GB
- Free space storage: 768 MB
- WiFi 2.4GHz/5GHz

Fitur tambahan
- Browsing
- Nonton youtube
- Kompatibel dengan mouse / keyboard USB maupun wireless
- Sudah support HDD eksternal sampai 2 TB
- Miracast (Fitur memunculkan tampilan layar HP pada TV)
Kelengkapan

- Unit Set Top TV Box
- Kabel Video dan Audio
- Kabel HDMI
- Kabel LAN
- Remote Control
- Adaptor
Port di STB

- Ethernet untuk konek ke Port-4 modem
- SPDIF
- AV 3mm
- HDMI
- USB1, USB2
- MicroSD
User Manual
Bisa dilihat di https://fccid.io/document.php?id=2570760
atau download di :
- sumber https://fccid.io/pdf.php?id=2570760
- mirror Drive
Default Pasword Factory Reset STB dan Ganti username akun adalah: 6321
Keterbatasan
- Internal storage tergolong kecil untuk menaruh data (Android/data)
- Install APK harus di internal storage
- FileBrowser bawaan tidak bisa langsung akses memory internal, harus dipancing
- Remote standar, tidak nyaman untuk menggerakan kursor
- Tidak ada Google Apps (Playstore), meski nanti bisa diinstall secara manual
Bahan
Untuk menginstall apk yang diperlukan adalah:
- STB ZTE (tentu saja)
- Monitor/TV/LCD buat display
- MicroSD untuk memancing filebrowser bawaannya STB
- Flashdisk tidak wajib
- APK file file yang akan diinstall, bisa diletakkan di microSD atau Flashdisk
- Mouse gak wajib, tapi akan sangat mempermudah navigasi
APK File
Silakan download APK mana yang ingin diinstall..
Mungkin ini bisa jadi referensi file yang dibutuhkan:
- File Manager by ASUS, ES File Explorer atau apa aja
- WIFI Explorer
- KODI v16, untuk nonton TV Online
- MX Player (untuk nonton movie)
- Holo Launcher (launcher pengganti default bawaan STB)
- CPU Z untuk melihat spesifikasi
Sumber-sumber download bisa dicari di:
dan lain sebagainya yang sangat banyak tersebar di internet dengan kata kunci download apk
Install APK
- copy file APK ke microSD
- masukkan microSD ke STB
- jalankan FileBrowser pada STB

- FileBrowser ➔ browse dan copy file APK berada (APK Asus/ES File Manager)

- klik ➔ External SD Card

- klik ➔ tombol [Back] pada remote, maka akan terlihat sdcard1 dan sdcard0 (internal). sdcard0 tidak akan muncul tanpa dipancing MicroSD
- bisa juga untuk back tekan tombol BACK, tidak harus pakai remote(penulis sudah buktikan sendiri)

- klik ➔ sdcard0 lalu browse dimana file APK akan di-paste, misal di folder Download.

- Paste file APK di folder Download sdcard0

- klik ➔ file APK untuk install.

Aplikasi telah terinstall.
Catatan:
Jika menggunakan Asus/ES File Manager untuk akses sdcard0, tidak perlu dipancing MicroSD lagi.
Hal yang sama juga dapat dipakai untuk menginstall APK lainnya, seperti KODI, Wifi file transfer, Telegram, dan lain sebagainya.
INGAT: Install APK tetap hanya bisa dari sdcard0.
Video
Jika bingung lihat videonya saja. Contoh yang ini adalah install APK Kodi.
Untuk bahan install kodi sudah ada di atas. Atau bisa download dari sumber langsung di http://mirrors.kodi.tv/releases/android/arm/
Credit video Channel Tutorial OpenWRT, Router , Modem and Android
Penutup
Sumber tulisan ini sebagian besar diambil dari tulisan rekanku di Telegram, @sadal yang ditulisnya pada telegraph yang notabene agak susah dilacak atau diingat-ingat URL nya jika dibutuhkan. Dan sudah disesuaikan dalam hal prakteknya.
Beberapa referensi lain:
Yang paling mudah memahami tutorialnya adalah mengikuti videonya dan kemudian dipraktekkan sendiri.
Akan dilanjutkan ke tutorial berikutnya yang lebih seru, insyaAllah.
https://blog.banghasan.com/note/tutorial/stb-indihome-ZTE-ZXV10-B760H-install-apk/
Monday, 4 September 2017
Sunday, 3 September 2017
Thursday, 31 August 2017
Wednesday, 30 August 2017
What’s The Difference Between SATA And SAS Hard Drives?
Main Differences Between SATA And SAS Hard Drives
SATA stands for Serial Advanced Technology Attachment and SAS stands for Serial Attached SCSI(SCSI Stands for Small Computer System Interface, typically pronounced as “scuzzy”). They’re two types of interface used for transferring data to and from hard drives.
In layman’s terms they are connectors that connect the server motherboard with the hard drives.
Whilst SATA and SAS refer to the data transfer interface they are used to describe two types of hard drive. It is important to note that for the purpose of this post we are referring to traditional ‘spinning’ hard drives as opposed to SSD drives.
Typically the most popular format for SATA drives are 7.2K whereas SAS come in two main types: 10K and 15K. The ‘K’ refers to the speed at which the data platters rotate.
The main difference between them is that SAS drives are faster and more reliable than SATA drives.
The best measure for hard drive speed is IOPS (Inputs Outputs Per Second) which expresses the amount of data that can be written to and read from the drive. The Industry accepted average for 7.2K SATA drives is 80 IOPS whereas 10K offer approximately 120 IOPS and 15K stretch to 180 IOPS. These are averages based on netting out low and intensive worloads.
SAS drives tend to be used for Enterprise Computing where high speed and high availability are crucial such as banking transactions and Ecommerce.
SATA drives tend to be used for desktops, consumer use and for less demanding roles such as data storage and backups.
SAS drives are more reliable than SATA drives. The industry accepted Mean Time Between Failure (MTBF) for SAS drives is 1.2 million hours vs 700,000 hours MTBF for SATA drives.
From a physical perspective the data cables are also significantly different. SATA cables are limited to 1 metre in length and the data and power are separate whereas SAS cables can be up to 10 metres in length with power and data provided through the same cable.
In terms of capacity though, SATA drives win hands down. 3TB SATA hard drives are not uncommon and there are 8TB disk offerings in a 3.5 inch format. Generally though they are most cost effective in the 1TB to 3TB range. SAS drives on the other hand tend to max at around 900GB although the most popular configuration is around 450GB to 500GB.
Other resources:
I hope you found this article useful on the differences between SATA & SAS drives.
Thanks for reading and leave your questions below to keep the conversation going.
Tuesday, 29 August 2017
Monday, 28 August 2017
Saturday, 26 August 2017
Lenovo G40-30/G50-30 Blue screen
Blue screen occurred during Windows 7 installation (Message: 0x000000A5) – Lenovo G40-30/G50-30
Symptom
Lenovo G40-30/G50-30 may encounter the issues that cannot install Windows 7 or blue screen occurs during Windows 7 setup process with the message of 0x000000A5.

BSOD message: 0x000000A5 (0x00000011, 0x00000008, 0x…, 0x…)
Affected configurations
The above symptom may occur to the following systems:
Lenovo G40-30 Notebook
Lenovo G50-30 Notebook
Lenovo G40-30 Notebook
Lenovo G50-30 Notebook
The above symptom may occur under the following condition:
Running Windows 7 Setup disc / USB key
Running Windows 7 Setup disc / USB key
Solution
- Shutdown computer. Press NOVO button, then press Arrow down key to select [BIOS Setup] and hit the Enter key.

Fig.1
Fig.2 - If the BIOS version is lower than A7CN27WW, please update BIOS to a7cn48ww or above. You can download the latest BIOS from here. Copy a7cn48ww_32.exe to the root path of your FAT32 format USB disk. Try to boot to your USB disk via Novo button or press F12 while booting. Click a7cn48ww_32.exe to upgrade BIOS to A7CN48WW.
- Switch to [Exit] page. Select [OS Optimized Defaults] and set to [Win7 OS].

Fig.3 - Select [Load Default Settings] and select [Yes].

Fig.4 - Press arrow key to switch to [Configuration] page. Select [USB Mode] and set to [USB 2.0]. After Windows 7 installation, please upgrade USB 3.0 driver and change back USB Mode value.

Fig.5 - Press arrow key to switch to [Exit] page. Select [Exit Saving Changes] option and select [Yes] to save the changes.

Fig.6 - When Lenovo LOGO appears, press “Fn+F12” to enter “Boot Manager” menu, select the USB key / ODD to setup Windows 7.

Fig.7
Need additional information, visit the Windows Support Center
Friday, 30 June 2017
Film berkualitas HD
Download menggunakan torrent
Save torrent magnet/link/file
Pakai aplikasi download Tixati
http://7tor.download/Movies/Browse.aspx
Film Berkualitas HD
Download menggunakan torrent
Save torrent magnet/link/file
Pakai aplikasi download Tixati
http://7tor.download/Movies/Browse.aspx
Save torrent magnet/link/file
Pakai aplikasi download Tixati
http://7tor.download/Movies/Browse.aspx
Friday, 24 March 2017
Thursday, 23 March 2017
Anies Baswedan di Markas FPI
Kelompok Arab bukanlah kelompok yang pertama menyatakan setia terhadap Indonesia. Sebelum deklarasi Persatoean Arab Indonesia (PAI), sekelompok orang Tionghoa mendirikan Partai Tionghoa Indonesia (PTI) pada 1931.
Anies adalah satu-satunya calon gubernur DKI yang berkarier di bidang akademik. Sylviana Murni juga pernah menjadi dosen, tapi ia calon wakil gubernur, bukan calon gubernur. Ahok dan Agus sama-sama mencicipi pendidikan pascasarjana, tapi hanya Anies yang menekuni karier di bidang akademik. Hanya Anies pula yang meraih gelar Doktor atau PhD, menduduki jabatan rektor di Universitas Paramadina, dan menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
Nalar akademik yang bertahun-tahun digeluti Anies diuji selama proses kampanye Pilkada DKI. Reputasi Anies sebagai seorang terpelajar yang mengajar (bahkan menginisiasi program Indonesia Mengajar) dan peneliti dihadapkan dengan realisme politik yang sama sekali tidak membutuhkan catatan kaki.
Salah satu ujian itu datang saat ia mendatangi markas Front Pembela Islam (FPI) di Petamburan, Jakarta. Terutama, justru, karena Anies membuka pidatonya dengan uraian tentang keilmiahan sebuah paper. Ceramah itu kemudian masuk ke soal-soal sejarah, khususnya sejarah Islam di dunia dan kelompok Arab di Indonesia.
Tulisan ini adalah usaha pengecekan fakta, atau bisa juga disebut sebagai upaya melengkapi ceramah itu dengan hal-hal yang luput diutarakan Anies.
TENTANG JALUR REMPAH
Anies: Apa barang yang dibawa di jalur sutra itu? Yang dibawa adalah rempah-rempah. Dibawanya dari mana? Dari Maluku. Ketika kemudian jalur sutra itu ditutup, yang pegang adalah pedagang Islam. ... Bahwa rempah itu dibawanya dulu memang Jalur Sutra, tapi kemudian menggunakan jalur laut. Jauh lebih murah, jauh lebih efisien ... Dan di sanalah yang namanya transmultinasional muslim itu terjadi. Bentangannya kira-kira dari Maroko hingga ke Maluku. ... 60% GDP dunia di tangan mereka. Dan apa bahasa internasionalnya? Bahasa internasionalnya adalah bahasa Arab. Lingua franca di semua titik menggunakan bahasa Arab.
Pertama, Jalur Sutra merujuk rute transportasi perdagangan yang menghubungkan Timur dan Barat, terutama dari Asia Daratan khususnya Cina ke Laut Mediterania, yang dari sana berlanjut hingga ke dunia Eropa. Ini adalah jaringan perdagangan berusia tua yang sudah dimulai setidaknya sejak Dinasti Han, satu atau dua abad sebelum Masehi.
Apa yang dibawa di Jalur Sutra? Tentu saja: sutra. Tentu ada barang-barang yang lain, termasuk rempah-rempah. Selain sutra dan rempah, perdagangan di Jalur Sutra menjual berbagai komoditas, mulai dari kertas, besi, logam berharga (giok), teh, gading, kulit, dan lain-lain.
Seluruh uraian Anies tentang Jalur Rempah merujuk perdagangan melalui jalur laut. Benar, selain lewat jalur darat, komoditas sutra juga memang didistribusikan melalui jalur laut. Maka, ada istilah Jalur Sutra Laut (Maritime Silk Routes). Namun, laut bukanlah rute awal dan utama.
Ketika Jalur Sutra dijadikan Situs Warisan Dunia oleh Unesco, area yang ditetapkan adalah Koridor Chang'an-Tianshan yang merentang dari Cina, Kazakhstan, dan Kyrgystan. Mayoritas situs-situs yang ada dalam koridor tersebut berada di darat. Hanya ada dua situs dalam Koridor Chang'an-Thianshan yang merujuk pada Jalur Sutra Laut.
Kedua, Anies benar mengatakan rute transportasi laut adalah tulang punggung perdagangan rempah. Namun, Anies tidak mengatakan bahwa transportasi laut tidak hanya mengangkut rempah-rempah dan tidak hanya dikuasai pedagang muslim.
Seperti halnya Jalur Sutra yang juga menjual komoditas yang lain, transportasi laut yang disebut Anies sebagai Jalur Rempah sudah lebih dulu melayarkan komoditas dupa atau bahan wewangian aromatik. Maka, ada istilah Incense Road (atau Jalur Menyan).
Selain menghidupkan rute transportasi dari Laut Mediterania ke wilayah-wilayah tengah Afrika melalui jalur darat melintasi Gurun Sahara, Jalur Menyan ini juga melalui Laut Merah dan Teluk Arab. Ia menautkan kawasan Arab dengan Eropa dan Afrika. Jalur Menyan ini sudah ada sebelum Yesus lahir, artinya sejak zaman sebelum Masehi.
Komoditas yang dilayarkan lewat Jalur Menyan ini salah satunya adalah—harus menggunakan kata "terutama" ketimbang "salah satunya" jika memang ingin menghidupkan peran Indonesia dalam sejarah transportasi-perdagangan dunia—kamper. Komoditas kamper inilah yang mempopulerkan nama Barus, diperkirakan terletak di pantai timur Sumatera, hingga ke kota-kota dan bandar-bandar penting dunia.
Jika "Barousai" dalam peta Ptolemeus memang merujuk Barus, maka Sumatera dan transportasi laut di Samudera Hindia sebenarnya sudah ramai sejak awal Masehi (Ptolomeus hidup antara tahun 90 sampai 168 Masehi), sekurang-kurangnya pada abad ke-11 jika merujuk Prasasti Tamil.
Transportasi laut ini juga sudah lebih dulu dihidupkan berbagai kebudayaan dari bermacam-macam bangsa sebelum—merujuk ucapan Anies—Utsman menutup rute (kurang jelas apakah Utsman yang dirujuk adalah Utsmaniyah di Turki atau Khalifah Utsman bin Affan). Dari Yunani, Romawi, Phoenicia, Carthage, Alexandria, Hindustan, Cina, hingga Venesia. Agamanya macam-macam: mulai dari Pagan, Buddha, Syiwa, Kristen, hingga akhirnya Islam.
Ketiga, kurang tepat jika perdagangan rempah menggunakan laut dikaitkan dengan "lebih murah dan lebih efisien." Jalur utama perdagangan rempah-rempah sejak awal sudah menggunakan laut karena produsen-produsen utama rempah banyak berada di kawasan-kawasan pantai. Menggunakan jalur darat kadang dilakukan, namun lebih ramai melalui laut.
Untuk beberapa kawasan bahkan tidak ada opsi selain melalui laut, misalnya untuk Maluku yang disebut Anies. Bukankah Maluku adalah kepulauan? Jangankan menjangkau Istanbul atau Hadramaut, menjangkau Makassar pun tidak bisa dijangkau dengan perjalanan darat.
Keempat, yang juga absen dalam uraian Anies adalah: perdagangan rempah yang memperkenalkan Maluku kepada dunia adalah perdagangan rempah tahap kesekian. Jauh sebelum itu, ada kawasan lain yang menjadi produsen rempah.
Salah satunya dikenal sebagai Land of Punt (sebagian menyebutnya di Afrika, ada juga yang percaya di Arab selatan) yang dihidupkan oleh Laut Eritrea, nama kuno untuk perairan yang meliputi area dari Tanjung Harapan di Afrika hingga Teluk Arab. Sebelum itu, kawasan Kerala di India menjadi produsen penting rempah-rempah, sampai-sampai Kerala disebut sebagai "spice garden of India". Sisi barat dan selatan Kerala berhadapan langsung dengan Samudera Hindia.
Kelima, Jalur Rempah sulit menggantikan istilah Jalur Sutra. Bukannya rempah tidak pernah diperdagangkan di jalur daratan Asia, karena India juga mengirim rempah ke Cina melalui darat, namun karena sutralah yang memang menjadi komoditas andalan Cina di awal pembukaan jalur itu. Untuk rute yang memang diinisiasi oleh Cina ini, rempah memang bisa dinomorduakan.
Ini tidak sesederhana, atau dalam istilah Anies, "cepat-cepatan klaim". Ini pertarungan diskursus, perihal dunia wacana yang sesungguhnya tidaklah netral, namun ikut ditentukan oleh konstelasi kekuasaan.
Tentu Anies tahu hal ini. Maka, dalam uraian di Petamburan ia menyebut "Barat Tengah" untuk apa yang lebih lazim disebut “Timur Tengah”. Ia mengerti istilah "Timur Tengah" memuat bias Eropa. Sebab “timur” dalam “Timur Tengah” berarti diukur berdasar posisi berdiri dari Eropa. Anies menggunakan Barat Tengah untuk menjelaskan bahwa jazirah Arab memang berada di barat jika dipandang dari Indonesia.
Edward Said, penulis yang berupaya membongkar nalar eurosentrisme, menyebut hal ini sebagai "imaginative geography" di dalam buku klasik Orientalism.
TENTANG KETURUNAN ARAB DAN POLITIK INDONESIA
Anies: [D]ulu orangtua kami itu dulu pendiri Partai Arab Indonesia, yang Partai Arab Indonesia itu mendeklarasikan; satu, tanah airnya Indonesia. Dan mengatakan tanah air Indonesia di tahun '34. Bapak-bapak ibu sekalian, orang Arab mengatakan tanah airnya Indonesia tahunnya '34.
Anies benar bahwa pada 1934 (tepatnya 4 Oktober 1934) memang ada semacam pertemuan keturunan Arab, didominasi anak muda, yang menyatakan tanah airnya adalah Indonesia, bukan lagi Arab (lebih tepatnya: Hadramaut). Namun pada 1934 tidak ada yang namanya Partai Arab Indonesia (PAI). Yang ada adalah Persatoean Arab Indonesia. PAI sebagai partai baru muncul dalam Kongres PAI IV yang berlangsung pada 18-25 April 1940.
Kelupaan tentu dapat dimaklumi. Ini hal biasa. Namun agar tidak menyepelekan perbedaan antara “Persatuan” atau “Partai”, perlu diterangkan bahwa perubahan dari “Persatuan” menjadi “Partai” memuat cerita yang tidak sepele. Banyak hal terjadi dari 1934 sampai 1940, baik di luar masyarakat keturunan Arab maupun di dalam masyarakat keturunan Arab. Di antara sesama keturunan Arab sendiri berlangsung dinamika yang tidak ringan.
Dinamika ini terkait banyak isu, namun salah satunya adalah perdebatan alot yang tidak tuntas pada 4 Oktober 1934: orientasi keturunan Arab itu harus diarahkan pada tanah asal, homeland, yaitu Hadramaut ataukah kepada Indonesia?
Perdebatan internal ini yang tidak disebutkan dalam pidato Anies. Agar lebih lengkap, supaya tidak simplisistis pada detail cerita, perlu disampaikan bahwa ada keturunan Arab yang memilih tetap merujuk Hadramaut sebagai orientasi kesetiaannya.
Memang benar bahwa deklarasi 1934 mendeklarasikan PAI bertanah air Indonesia. Juga benar bahwa Abdul Rahman Baswedan, kakek Anies sebagai tokoh utamanya, sangat bersungguh-sungguh menganggap Indonesia sebagai tanah air. Namun tidak semua keturunan Arab menyepakati itu. Penolakan ada, bahkan ramai.
A.R. Baswedan bahkan merasakan sendiri tantangan dari sesama keturunan Arab. Disertasi Husein Haikal, profesor sejarah di Universitas Negeri Yogyakarta, Indonesia-Arab dalam Pergerakan Kemerdekaan Indonesia, mengisahkan ancaman kepada A.R. Baswedan bahkan sampai berupa ancaman fisik. Husein Haikal bahkan menyebut para penentang A.R. Baswedan nyaris berhasil melaksanakan niatnya namun urung dilakukan karena melihat fisik A.R. Baswedan yang kurus (baca laporan Tempo edisi 15 Desember 2008).
PAI jelas tidak begitu saja menjadi suara mayoritas. Bahkan, pada 1938 lahir Indo Arabisch Beweging (IAB) yang diinisiasi oleh M.B.A Alamudi. Delapan tahun sebelumnya, orang yang sama mendirikan Indo Arabisch Vereniging (IAV). Orientasi keduanya sama: menjunjung tinggi homeland, Hadramaut, alih-alih menjunjung nasionalisme Indonesia. Di kemudian hari, Alamudi bahkan menjadi semakin dekat dengan Belanda, bahkan berada di sisi Belanda, walaupun proklamasi sudah dinyatakan. Dan ia tentu tak sendiri, ada segmen keturunan Arab yang berada di belakangnya.
Jika lebih rinci lagi, isunya lebih kompleks dari sekadar pro Hadramaut atau Indonesia atau PAI vs IAB. Ada soal sayyid dan non-sayyid hingga soal pernikahan beda “kasta”, hingga konflik antara Al-Irsyad dengan Arrabitah.
Namun hal-hal di atas rasanya sudah cukup untuk memperbaiki apa yang disampaikan Anies sebagai: “Dan ini (mendeklarasikan Indonesia sebagai tanah air) yang melakukan siapa? Seluruh kelompok (keturunan Arab)“. Pernyataan Anies itu, sejujurnya, terlalu simplisistis—jika bukan keliru.
Anies: Apa sih yang terjadi itu? Nekat. Tahun 34 nekat. Apakah Indonesia sudah ada. Belum. Belum. Kalau orang Jawa mengatakan “saya Indonesia”, ternyata Indonesia tidak terjadi dia tetap Jawa. [...] Lha ini orang Arab mengatakan saya Indonesia barangnya belum ada. Kalau ternyata Indonesia tidak terjadi, mau ngaku Jawa gak bisa, mau ngaku Arab dia bilang “ente udah bilang Indonesia, cari aja sana Indonesia di mana”. Ndak ada barangnya.
Indonesia tentu saja belum eksis sebagai negara yang merdeka dan berdaulat. Bahkan bagi Belanda, 17 Agustus 1945 itu tak membuat Indonesia ada. Belanda baru mengakui Indonesia pada 1949 melalui Konferensi Meja Bundar.
Namun, agar tidak menjadi glorifikasi asal-usul sendiri, bolehlah disampaikan bahwa soal nekat-nekatan ini sesungguhnya juga terjadi pada nasionalis beretnis Jawa atau Minang atau Makasar sekalipun. Bahkan Sukarno, Hatta, atau Tan Malaka pun tak tahu apakah Indonesia akan merdeka, sementara mereka sudah bersikap radikal dan terbuka menentang Belanda.
Belum lagi pejuang-pejuang anonim, atau yang bukan profil kelas atas, yang nasibnya benar-benar tak menentu jika tertangkap Belanda. Orang seperti Mas Marco atau Haji Misbach yang dibuang ke Papua itu tak pernah tahu mereka bisa kembali ke Jawa atau tidak. Mereka bisa berharap bebas jika Indonesia merdeka, tapi tak ada yang tahu itu akan terjadi kapan.
Menjadi Indonesia alias memutuskan berpihak pada gagasan tentang tanah air Indonesia, saat kolonialisme masih menancap dalam, hampir selalu membutuhkan kenekatan. Tanpa kecuali.
Siapa bilang nasionalis Indonesia dari Jawa tidak memikul risiko jika Indonesia akhirnya tidak merdeka? Perdebatan tentang kesetiaan harus diarahkan kepada Jawa ataukah kepada identitas baru bernama Indonesia juga bukannya tidak sengit. Dan yang berpihak pada identitas baru Indonesia ini, selain harus bersiap dipenjara, seringkali juga dianggap sudah bukan lagi Jawa di mata orang-orang konservatif.
Anies: Mereka menyatakan sumpah tanah air Indonesia sebelum Indonesia-nya ada. Tidak ada yang lain yang melakukan itu kecuali keturunan Arab di indonesia. Enggak ada. Dan ini yang melakukan siapa? Seluruh kelompok. [...]
Sebelum PAI berdiri dan mendeklarasikan kesetiaan pada tanah air Indonesia, sekelompok orang Tionghoa sudah lebih dulu mendirikan Partai Tionghoa Indonesia (PTI) pada 25 september 1932. Sebagaimana PAI, PTI adalah organisasi yang mempromosikan pandangan agar warga keturunan Tionghoa (yang lahir) di Indonesia menjunjung tinggi tanah air Indonesia. Bagi PTI, Indonesia adalah tanah airnya serta menuntut persamaan hak dan kewajiban dengan orang pribumi yaitu mau berjuang untuk kemerdekaan Indonesia dan percaya bahwa nasib mereka terikat dengan nasib orang Indonesia pribumi.
PTI didirikan oleh Liem Koen Hian. Siapa dia? Dia mentor A.R. Baswedan dalam jurnalisme dan politik. Liem yang mengundang A.R. Baswedan untuk bergabung dengan Sin Tit Po yang dipimpin Liem. Bahkan PAI sendiri terinspirasi dari PTI. Hanya beda “A” dan “T” dari penamaan dalam bentuk singkatan.
Natalie Mobini Kesheh, dalam The Hadrami Awakening: Community and identity in the Netherlands East Indies, 1900-1942 (hal. 135) menulis: [L]iem's ideas were an important influence upon his own, and that the PTI was a model for PAI which Baswedan founded two years later.”
PTI sendiri terinspirasi dari Indische Partij, sebuah organisasi radikal yang, saking radikalnya, tidak pernah disahkan oleh pemerintah kolonial. Kendati juga berisi orang-orang bumiputera, dengan Soewardi dan Tjipto sebagai tokoh utamanya, tapi anggota Indische Partij yang berlatar belakang keturunan Belanda atau Eropa lima kali lipat lebih banyak dari orang bumiputera.
Kendati berdarah Eropa, biasa disebut Indo(-Eropa), mereka menganggap Hindia sebagai tanah airnya, bukan Belanda atau Eropa. Bukan hanya menganggap Hindia sebagai tanah air belaka, mereka juga meyakini bahwa tanah Hindia ini “bukan negeri milik Anda (penjajah Belanda). Negeri ini adalah negeri milik kami, Tanah Air kami. Kelak negeri akan bebas selamanya”.
Kalimat itu milik Douwes Dekker, seorang Indo-Eropa. Orang ini juga yang pada 1913 menulis sebuah surat dukungan saat Soewardi dan Tjipto dibuang Belanda. Katanya: “Sekarang akhirnya kita merasakan bahwa kita tidak saling lawan; kita, bangsa Hindia, tidak juga bersebelahan satu sama lain, melainkan bersatu. Dengan terkejut kita menyadari apa yang terjadi: urusan mereka adalah urusan kita. Penderitaan mereka adalah penderitaan kita. Serentak segalanya menjadi begitu tajam dan jelas bagi kita: Kita bersaudara: kita adalah satu.”
Apakah Liem Koen Hian atau Douwes Dekker dan sesama rekan-rekan yang mendukungnya tidak mengambil risiko dan tidak nekat? Tentu tidak.
Risiko mereka juga terang: sebagai Cina, tentu Liem tahu bahwa stereotipe dan kebencian terhadap mereka itu ada, sedangkan Dekker jelas akan selalu dianggap oleh bumiputera sebagai “orang-sana” karena berkulit putih dan berhidung mancung. Liem dan Dekker juga sama-sama menganut agama minoritas.
Mengikuti penalaran Anies, jika Indonesia tidak merdeka, mereka akan dianggap bukan Tionghoa dan Eropa (karena sudah mendukung tanah air Hindia/Indonesia). Jika Indonesia merdeka, belum tentu mereka diakui sebagai sepenuhnya WNI oleh bumiputera.
Seperti halnya ada keturunan Arab pendiri IAV yang menolak menjunjung Indonesia sebagai tanah air, tentu saja keturunan Cina dan Indo juga sangat banyak yang tidak mau bergabung dengan nasionalisme Indonesia. Mayoritas keturunan Indo bisa dikatakan sangat ragu, bahkan menolak, mendukung gagasan Dekker.
Namun cukuplah dikatakan: kalimat Anies yang berbunyi “Tidak ada yang lain yang melakukan itu kecuali keturunan Arab di Indonesia” jelas keliru.
Anies: Apa yang terjadi? Begitu Indonesia merdeka partainya membubarkan diri. Bapak-bapak ibu sekalian cari di dunia mana ada sebuah partai membubarkan diri karena tujuan telah tercapai. [...] Membubarkan diri, bukan dibubarkan. [...] mengambil sikapnya non-kooperatif. gabungan sesudah itu dengan MIAI, Majelis Islam A’la Indonesia.
Membubarkan diri ini problematis atau masih sumir. MIAI jelas dibubarkan oleh Jepang, lalu dibentuklah Masyumi. Bagaimana dengan PAI? Hamid Algadri, salah seorang tokoh keturunan Arab, dalam buku Politik Belanda Terhadap Islam dan Keturunan Arab Indonesia menulis di halaman 130: “Setelah bermanis-manis dengan Indonesia beberapa waktu, semua partai politik dibubarkan oleh Jepang, di antaranya PAI.”
Kemungkinan “membubarkan diri” dalam istilah Anies adalah setelah kemerdekaan, ketika Maklumat X yang menyerukan pendirian partai-partai diparaf Hatta pada 3 November 1945, PAI sempat dibentuk lagi. Namun, karena partai-partai yang ada sudah membuka diri kepada keturunan Arab, maka tidak diperlukan lagi PAI. PAI pun dibubarkan.
Anies keliru ketika menyebut PAI (atau juga MIAI di mana PAI akhirnya bergabung—dalam hal ini Anies benar) berkiprah dalam politik masa itu dengan berhaluan non-kooperatif. Istilah non-kooperatif merujuk sikap/pendirian yang tidak bersedia bekerja sama dengan pemerintah kolonial. PKI dan PNI-Baru jelas non-kooperatif, tapi PAI tidak pernah bersikap non-kooperatif.
Jika bersikap non-kooperatif, mustahil PAI diizinkan berdiri. Pada 1934, konservatisme pemerintah kolonial sedang kuat-kuatnya. Sukarno, Hatta, dan Sjahrir dibuang. Tidak ada lagi main-main dengan partai-partai progresif dan revolusioner.
Kalau mau eksis dan aman, berpolitiklah dalam kerangka sistem kolonial—yang untuk sebagian berarti mengakui dan bersedia bergabung di Volksraad. A.S. Alatas, Ketua PAI yang terpilih menggantikan AR Baswedan yang sakit pada 1938, adalah anggota Volksraad.
Sikap non-kooperatif terkesan lebih heroik, atau mengesankan sikap keras dan tanpa kompromi kepada Belanda. Tentu Anies tidak ingin sedang mengatrol level heroisme keturunan Arab ketika menyebut PAI sebagai partai non-kooperasi. Anies, sekali lagi, sepertinya lupa, atau barangkali luput soal detail.
https://tirto.id/yang-tidak-dikatakan-anies-baswedan-di-markas-fpi-ce1b?gclid=CNKNgbLs7NICFQwmvQod-eYJqw
Subscribe to:
Comments (Atom)





